Tahun 2012, ia terpilih sebagai satpam teladan namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena beberapa bulan setelah penghargaan itu, ia terdiagnosa menderita kanker paru-paru stadium akhir. Kesempatan Wu Shuliang pulih 100% sudah sangat mustahil. Dokter juga mengatakan kesempatan hidup pasien kemungkinan hanya 3-6 bulan saja.

Namun Wu berjuang melawan penyakitnya untuk anak dan istrinya, ia pun telah menjalani 11 kemoterapi dan 40 kali radioterapi sejak ia divonis penyakit itu. Sambil berusaha menahan sakit, secara ajaib Wu bertahan sampai 33 bulan. Tapi biaya pengobatan yang membengkak membuat Wu kehilangan semangat hidupnya lagi.

Selama ini Wu dan istrinya menyembunyikan semua masalah dari anaknya. Tapi anak Wu yang saat itu berusia 8 tahun ternyata sudah dapat merasakan dan melihat kesusahan ayah dan ibunya. Saat itu Hari Anak Nasional, sekolah mengadakan perlombaan dan anak Wu juga ikut lomba mengarang. Tulisan anaknya menjadi sebuah semangat bagi Wu yang telah menghentikan pengobatan karena keadaan mereka sudah sangat susah.

Karangan yang dibuat oleh anaknya begitu menyentuh bahkan menjadi viral di media sosial, “Ayah sudah lama sakit. Orang-orang bilang ayah terkena kanker yang ganas. Impian terbesarku adalah ayah dapat cepat sembuh kembali. Dengan begitu ibu tidak susah lagi. Kalau ayah sehat, ia dapat mengantar dan menjemputku ke sekolah dengan sepedanya. Ayah setiap malam tidak dapat tidur karena menahan sakit, hatiku sangat sedih.
Dia setiap bulan juga harus ke rumah sakit, saya juga khawatir. Ibu bilang uang keluarga sudah habis untuk pengobatan ayah, aku benar-benar takut kehilangan ayah. Kalau tidak ada ayah, tidak ada yang menjagaku, melindungiku. Kalau tinggal ibu, apa yang harus kulakukan? Aku bersedia menukar barang terindah di dunia dengan hidup ayahku. Aku berharap ayah, ibu dan aku selalu bersama, dengan begitu aku akan menjadi anak yang paling berbahagia.”

Sontak semua penonton ikut menangis mendengar tulisan itu dibacakan. Begitu juga dengan Wu saat pertama kali membaca tulisan anaknya, ia menangis tersedu. Tulisan itu yang membuat Wu bangkit kembali. Setelah tulisan itu viral, banyak orang yang menyumbang untuk pengobatan Wu. Harapan Wu hanya dapat bertahan hingga istrinya diterima sebagai penduduk Shenzhen. Sosok Wu begitu mengharukan karena kuat menjalani hidup dan bertanggung jawab mempertahankan hidup.
Sumber : Youtube